27
Oct
09

Razonca: Sebuah Percobaan Kritik

Pada awalnya ada sedikit keresahan dan perasaan pesimistik menghinggapi diri saya ketika mulai membaca novel terbaru saudara Irwan Bajang “Razonca Rumah Merah Kita”. Hal tersebut lantaran nama tokoh dan negara asal mereka begitu asing di telinga saya. Namun kemudian saya memaklumi karena ini hanyalah sebuah karya fiksi. Maka saya pun memaksakan diri melahap kata demi kata yang terangkai alam novel tersebut.

Novel Razonca ini bercerita tentang anak muda yang berasal dari pulau Jagze yang pergi ke ibukota negara Sailon, Koblem untuk melanjutkan studi ilmu peternakan pada Universitas Negeri Sailon. Di sana ia berkenalan dengan Verzaya, senior kampusnya serta Ariaseni, seorang anak menteri kesejahteraan rakyat yang kesepian, mahasiswi psikologi, juga senior kampusnya yang merupakan pendiri rumah merah, sebuah organisasi bawah tanah untuk menentang tindakan pemerintah negeri Sailon yang katanya otoriter tersebut. Singkat kata, Razonca kemudian menjadi aktivis rumah merah dan aktif terlibat dalam setiap kegiatannya.

Lalu cerita bergeser pada protes dan perlawanan rakyat karena pemerintah Sailon telah menandatangani perjanjian kerjasama dengna negara lain dalam bidang pertambangan. Di tengah kisruh tersebut, muncul perlawanan dari pulau-pulau luar, Jagze dan Balehoem. Jagze menuntut kemerdekaan, Balehoem ingin diberi status otonomi khusus. Hal ini karena, menurut penduduk Jagze dan Balehoem, pemerintah Sailon terlalu Koblemsentris. Pemerintah Sailon menanggapi hal tersebut dengan mengerahkan pasukan militer untuk meredam gejolak.

Aktivis rumah merah tidak tinggal diam. Mereka membangun aliansi anti integrasi. Kemudian munculah strategi di mana, Razonca harus pulang ke Jagze untuk mengadakan infiltrasi, agar dapat mengajak masyarakat Jagze untuk menghentikan upaya kemerdekaan. Begitu pula dengan Verzaya, pulang ke Balehoem. Sedangkan Ariaseni tetap berada di Koblem untuk memperhebat perjuangan anti intergrasi. Namun semua itu berubah ketika Verzaya, setelah pulang ke Balehoem, mendapat kabar dari media massa bahwa Ariaseni merupakan anak seorang menteri, hal yang tak pernah mereka ketahui. Ia kemudian bernegatif-thingking-ria bahwa Ariaseni adalah mata-mata pemerintah. Razonca yang sudah bergabung ke dalam pasukan perlawanan Jagze mencoba menyadarkan mereka pun ikut termakan prasangka negative Verzaya. Mereka kemudia melupakan cita-cita Sailon bersatu, malahan ikut dan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman Koblemsentris. Rusaklah persahabatan mereka, Berakhir sudah perjuangan aktivis rumah merah.

Jangan takut, membaca novel yang terdengar serius ini, kita tidak perlu mengerinyitkan kening, tanda bingung dan sulit dicerna. Novel ini menggunakan bahasa yang lurus dan to the point, tidak berbunga-bunga. Cerita pun dibumbui kisah percintaan rahasia antara Razonca dan Ariaseni. Jadi jangan takut untuk membacanya. Tapi ingat, jangan dipinjam, belilah sendiri biar honor saudara Irwan bisa lebih tinggi lagi.

Kritik
Orang bilang karya sastra, apapun itu merupakan suatu batu ujian interpretasi bagi pembacanya. Oleh karena itu saya sebagai pembaca ingin memberikan interpretasi saya, syukur-syukur bisa memenuhi kaidah kritik sastra. Saya hanya merasa sedikit aneh, dengan sikap Ariaseni, mahasiswi jurusan psikologi. Ia begitu marah dan menuduh ibunya berselingkuh dengan pemain teater yang masih brondong, setelah menyaksikan adegan teater yang diperankan ibunya. Semestinya, jika dia memang mahasiswi psikologi, dia bisa memahami tuntutan peran tersebut, dan alasan mengapa ibunya mencari kesibukan di luar. Seorang psikolog, atau setidak-tidaknya calon psikolog dituntut untu berpandangan jauh ke depan, tidak subjektif, apalagi memasang prasangka-prasangka negatif. Terasa janggal sekali jika kita melihat hal yang dilakukan oleh Aria.

Berikutnya, masih tentang Ariseni. Jika dia adalah anak menteri, tapi mendirikan organisasi bawah tanah anti pemerintah, mengapa tidak tidak ditampilkan konflik bathin, dan konflik kepentingan dalam diri Ariaeseni, karena ayahnya juga duduk dalam pemerintahan. Akan lebih indah lagi jika dalam novel Razonca ini menampilkan cerita pertengkaran dan adu argumentasi antara Ariaseni dan ayahnya. Mungkin karena kesibukan ayahnya sehingga hal tersebut tidak pernah terjadi dalam novel ini.

Berikutnya, mengenai sifat pemerintahan Sailon yang otoriter, ditampilkan hanya ketika ada demonstrasi, dan dibubarkan dengan cara represif oleh aparat keamanan. Koran bebas memberitakan tanpa dibredel, para pengamat ekonomi dan politik bebas mengkritik tapi tidak dijebloskan ke penjara, dan dalam cerita ini, rumah merah, markas organisasi bawah tanah rumah merah, tidak pernah digeledah oleh aparat. PAdahal seperti yang kita pahami bersama, keotoriteran pemerintah suatu negara meliputi segenap aspek di mana pembredelan, pemenjaraan para kritikus serta penggeledahan menjadi cerita yang membumbui.

Kemudian hal yang terlewatkan adalah, tidak diceritakannya keadaan Jagze ketika terjadi perang, di mana saat itu Razonca masih berada di Koblem. Apakah Razonca tidak mendapat kesulitan seperti kesulitan uang, karena orang tuanya berada di Jagze yang sedang berkecamuk itu. Mungkin karena surat-menyurat antara orang tua Razonca dan Razonca sangat jarang terjadi sehingga pembaca tidak memperoleh gambaran tentang keadaan Jagze kala itu. Kita, tiba-tiba dikejutkan pada halaman 135, di mana ketika Razonca pulang untuk mengadakan infiltrasi ke dalam pasukan pembebasan Jagze, terdapat informasi bahwa Razonca pulang ke rumah atas permintaan orang tuanya demi keamanan dirinya. Setelah keadaan membaik, Razonca bisa kembali ke Koblem.

Terakhir, namun tidak fatal, adalah diskusi yang digelar di Universitas Koblem, di mana yang menjadi pembicara adalah seorang pengamat ekonomi, dan Menteru Luar Negeri. Pengamat ekonomi memberikan kritik atas pernyataan Menlu bahwa bahwa kerjasama ekonomi dengan negara lain akan emnguntungkan Sailon. Alangkah baiknya jika dalam cerita ini, yang menjadi pembicara dari pihak pemerintah adalah menteri perekonomian, sebagai menteri teknis, bukan menteri luar negeri, karena sifat kementrian luar negeri adalah sebagai saluran komunikasi saja, tidak pada tataran pengambil kebijakan, palagi kebijakan ekonomi. Begitu pula ketika diadakan penandatanganan pertambangan antara Sailon dan Daezenlok, seharusnya yang menadatangani adalah menteri pertambangan sebagai menteri teknis, bukan menteri luar negeri.

Jadi pada intinya, masih ada beberapa hal yang terlewatkan. Mungkin hal-hal tersebut akan dimasukan saudara Irwan pda trilogi selanjutnya, karena novel Razonca ini direncanakan akan hadir dalam bentuk trilogi. Kritik memang enak, tapi mencurahkan perhatian untuk melahirkan sebuah akrya sastra, khususnya novel adalah hal yang luar biasa.

Rizal
tulisan diambil dari: http://bacatulis.forumotion.com/buku-f10/razonca-sebuah-percobaan-kritik-t38.htm#41

12
Oct
09

Novel Rumah Merah Kita

Pemuda Pemberani itu adalah Razonca, yang datang merantau untuk menuntut ilmu ke Koblem; Ibukota Sailon, negara kelahirannya. Begitulah Irwan Bajang, seorang penulis muda asal pulau Lombok ini menggambarkan seorang tokoh dalam bukunya Razonca “Rumah Merah Kita”. Cerita diwali dengan keberangkatan Zonca ke ibukota untuk menuntut ilmu, melanjutkan cita-cita ayahnya kelak, menjadi peternak sapi di pulau Jagze. Tapi, kehidupan memang misterius dan susah ditebak. Cita-cita sering kali tak seindah apa yang dibayangkan. Keadaan membenturkan Zonca pada realitas negaranya yang kacau akibat pemerintahan diktator dan keterpurukan akibat negara yang salah urus. Hal ini juga diperparah dengan penananaman modal asing yang memberi ruang pemiskinan yang menganga bagi negara Sailon. Zonca terbentur pada realita itu. Semangat mudanya memanggil ia untuk berjuang membela negaranya. Ia bergabung dengan Rumah Merah, sebuah organisasi pemuda, dimana kelak ia bertemu pemuda-pemuda pemberani, sahabatnya Verzaya dan Aria kekasihnya.

Ketika keadaan semakin kacau akibat kecemburuan sosial pulau-pulau yang terdiskriminasi oleh sentralisai pembangunan di ibukota, maka tiga sekawan Zonca, Aria dan Verzaya tidak mau tinggal diam, Verzaya pulang ke Balehoem, Zonca kembali ke Jagze da Aria menetap di Koblem. Mereka sepakat untuk membagi diri, menyusup ke lumbung-lumbung pemberontak untuk meredamnya dari dalam. Menyamar dan menyadarkan masyarakatnya tentang penyebab sejati kekacauan yang ada; kapitalisme global.

Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita besar yang mereka impikan. Semua kandas ditengah jalan. Perang saudara tidak bisa dielakkan lagi. Sailon diambang kehancuran.

Membaca novel ini, kita tidak hanya disuguhkan sebuah drama kehidupan anak muda, tapi juga sebuah cerita dan penguakan kebohongan kapitalis terhadap negara dunia ketiga, yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia belakangan ini.

Irwan Bajang, meramu sebuah cerita yang apik, mengalir lancar dengan format fiksi fantasi semi ilmiah, sebuah metode yang barang kali baru dimulai oleh ia sendiri dalam dunia sastra fiksi fantasi. Penulis menghadirkan sebuah gambaran negara makmur yang terus-terusan dikeruk kekayaannya oleh negara penjajah, pun ketika negara itu telah merdeka. Kita seperti diajak melihat cerminan Indonesia, yang dihadirkan lewat sebuah negara rekaan; Sailon, begitulah nama negara dalam novel ini. Adanya petunjuk peta pada akhir buku, membuat kita bisa mengamati letak geografis daerah yang ia ceritakan. Terlebih juga disajikan tiga animasi untuk tiga karakter yang paling dominan dalam novel tersebut, membuat kita lebih gampang memahami karakter tokohnya.

Tidak ada gading yang tak retak, novel ini seperti terlihat terburu-buru untuk menghadirkan konflik dan klimaks, menjelang lima puluhan lembar terakhir ceritanya. Namun bagi pembaca yang tidak suka cerita yang bertele-tele, kecepatan alur tersebut, malah menghadirkan sensasi yang menegangkan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya sebagai seorang penulis muda dan pemula, terbitnya novel ini seolah menjadi sebuah pembuka ruang diskusi untuk kita memaknai kembali kemerdekaan indonesai, menerjemahkan mimpi-mimpi pendiri bangsa untuk menjaga negeranya. Semangat kaum muda untuk membela bangsanya, dapat kita teladani dari novel ini. lahirnya novel yang tergolong serius, dari tangan penulis muda Indonesia berumur dua puluh satu tahun ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis lokal mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya didominasi oleh penulis-penulis asing. []




Razonca Rumah Merah Kita

Rumah Merah Kita adalah seri pertama dari tetralogi Razonca karangan Irwan Bajang. Buku ini berkisah tentang kehidupan sekelompok anak muda yang hidup di tengah situasi negara yang sangat tidak kondusif. Di bawah tekanan rezim otoriter negara Sailon, mereka mendirikan Rumah Merah, sebuah organisasi perlawanan untuk memulihkan kembali negara mereka menjadi negara yang aman dan tentram. Tentu saja mereka harus berhadapan dengan moncong senjata, dengan penjara dan dengan segala bentuk kekerasan. Di tengah tragedi inilah kehidupan Razonca, Ariaseni dan Verzaya berlangsung. Tiga kator kunci ini selain berjuang tentu saja memiliki kisah masing-masing, dan memiliki rencana serta keegosin sendiri-sendiri. Irwan Bajang meramu cerita dengan apik, menjadikan novel ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi pemuda dan negaranya.