Novel Rumah Merah Kita

Posted on October 12, 2009

3


Pemuda Pemberani itu adalah Razonca, yang datang merantau untuk menuntut ilmu ke Koblem; Ibukota Sailon, negara kelahirannya. Begitulah Irwan Bajang, seorang penulis muda asal pulau Lombok ini menggambarkan seorang tokoh dalam bukunya Razonca “Rumah Merah Kita”. Cerita diwali dengan keberangkatan Zonca ke ibukota untuk menuntut ilmu, melanjutkan cita-cita ayahnya kelak, menjadi peternak sapi di pulau Jagze. Tapi, kehidupan memang misterius dan susah ditebak. Cita-cita sering kali tak seindah apa yang dibayangkan. Keadaan membenturkan Zonca pada realitas negaranya yang kacau akibat pemerintahan diktator dan keterpurukan akibat negara yang salah urus. Hal ini juga diperparah dengan penananaman modal asing yang memberi ruang pemiskinan yang menganga bagi negara Sailon. Zonca terbentur pada realita itu. Semangat mudanya memanggil ia untuk berjuang membela negaranya. Ia bergabung dengan Rumah Merah, sebuah organisasi pemuda, dimana kelak ia bertemu pemuda-pemuda pemberani, sahabatnya Verzaya dan Aria kekasihnya.

Ketika keadaan semakin kacau akibat kecemburuan sosial pulau-pulau yang terdiskriminasi oleh sentralisai pembangunan di ibukota, maka tiga sekawan Zonca, Aria dan Verzaya tidak mau tinggal diam, Verzaya pulang ke Balehoem, Zonca kembali ke Jagze da Aria menetap di Koblem. Mereka sepakat untuk membagi diri, menyusup ke lumbung-lumbung pemberontak untuk meredamnya dari dalam. Menyamar dan menyadarkan masyarakatnya tentang penyebab sejati kekacauan yang ada; kapitalisme global.

Namun apa jadinya jika dalam perjuangan muncul konflik internal dari kalangan pengambil keputusan Rumah Merah? Ketidak percayaan, ketidak jelasan informasi dan ego darah muda membawa cerita lain dari cita-cita besar yang mereka impikan. Semua kandas ditengah jalan. Perang saudara tidak bisa dielakkan lagi. Sailon diambang kehancuran.

Membaca novel ini, kita tidak hanya disuguhkan sebuah drama kehidupan anak muda, tapi juga sebuah cerita dan penguakan kebohongan kapitalis terhadap negara dunia ketiga, yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia belakangan ini.

Irwan Bajang, meramu sebuah cerita yang apik, mengalir lancar dengan format fiksi fantasi semi ilmiah, sebuah metode yang barang kali baru dimulai oleh ia sendiri dalam dunia sastra fiksi fantasi. Penulis menghadirkan sebuah gambaran negara makmur yang terus-terusan dikeruk kekayaannya oleh negara penjajah, pun ketika negara itu telah merdeka. Kita seperti diajak melihat cerminan Indonesia, yang dihadirkan lewat sebuah negara rekaan; Sailon, begitulah nama negara dalam novel ini. Adanya petunjuk peta pada akhir buku, membuat kita bisa mengamati letak geografis daerah yang ia ceritakan. Terlebih juga disajikan tiga animasi untuk tiga karakter yang paling dominan dalam novel tersebut, membuat kita lebih gampang memahami karakter tokohnya.

Tidak ada gading yang tak retak, novel ini seperti terlihat terburu-buru untuk menghadirkan konflik dan klimaks, menjelang lima puluhan lembar terakhir ceritanya. Namun bagi pembaca yang tidak suka cerita yang bertele-tele, kecepatan alur tersebut, malah menghadirkan sensasi yang menegangkan.

Terlepas dari beberapa kekurangannya sebagai seorang penulis muda dan pemula, terbitnya novel ini seolah menjadi sebuah pembuka ruang diskusi untuk kita memaknai kembali kemerdekaan indonesai, menerjemahkan mimpi-mimpi pendiri bangsa untuk menjaga negeranya. Semangat kaum muda untuk membela bangsanya, dapat kita teladani dari novel ini. lahirnya novel yang tergolong serius, dari tangan penulis muda Indonesia berumur dua puluh satu tahun ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis lokal mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya didominasi oleh penulis-penulis asing. []

Advertisements
Posted in: Uncategorized